Aku akan berusaha tegar dan kuat saat orang yang aku sayangi pergi dari kehidupanku... Aku akan berusaha ikhlas saat orang yang aku cintai telah menjadi milik orang lain... Dan aku akan berusaha tersenyum manis walau hati ini menangis...
Ya Allah, jangan biarkan perasaan cintaku padanya melebihi rasa cintaku padaMu... Ya Allah, semoga dia bahagia di sana... Mencapai semua mimpi-mimpinya...
Terinspirasi dari tulisan seorang teman. Dan mungkin saya merasa kurang pantas menulis seperti ini. Karena memang jujur saya belum bisa berkontribusi penuh untuk Indonesiaku. Indonesiaku? Apa kah pantas juga saya menyebutnya?
Apakah kita pantas berkata merdeka? Kalau saja masih ada anak-anak mati karena busung lapar. Masih ada sebagian penduduk yang masih menguyah ‘tiwul’(makanan pokok yang terbuat dari ketela), disaat kita duduk santai sambil wifian di restoran Internasional. Masih ada sekelompok daging hidup yang mogok makan karena urusan sengketa tanah dengan pemerintah. Dan yang paling menakjubkan akhir-akhir ini adalah meletusnya tabung hijau kecil yang hanya memuat 3kg gas hasil subsidi dari pemerintah. Angkanya pun tak main-main, 5 kali dalam sehari. Memang, ada ganti rugi sekitar 25juta. Namun, apakah angka itu cukup untuk mengganti sanak saudara anda (maaf:yang meninggal dunia, naudzubillah min dzalik). Tentu tidak, bahkan seringkali mengalami ‘tombok’ karena harus bayar biaya rumah sakit yang mencapai 400juta. Kalau seperti ini siapa yang rugi? Kalau saja pemerintah lebih teliti lagi, mungkin uang ganti rugi itu bisa di alihkan ke hal yang berguna. Oke, lupakan kasus tabung hijau itu. Masih banyak pertanyaan yang hingga detik ini belum terjawab. Kasus Lapindo, masih ingatkah anda? Atau sudah lupa karena memang tak ada yang pernah memikirkannya(lagi). Disaat banyak kerugian yang dialami warga sekitar porong, begitu bangganya seorang Bakri menggelar pesta perikahan putra-putrinya dengan sangat meriah. Wow, fantastis memang. Sering saya bertanya-tanya, “kok bisa tidur ya tu orang melihat penderitaan warga karena ulah tangannya”.
“Hei bung, di mana tanggung jawab anda?”
”Dimana rasa kemanusiaan anda?”
Ini hanya segelintir kasus yang pernah singgah di otak saya, dan masih banyak lagi kasus yang mungkin akan panjang bila saya tuliskan.
Kembali ke topik diatas, “Saat ini Indonesia telah Merdeka secara Fisik, tapi belum secara Moral!”. Mengapa demikian? Tidak usah melihat yang jauh dari pandangan kita, kita lihat saja dari hal-hal kecil disekitar kita. Sekarang kita memang sudah tidak terjajah secara nyata, seperti masa penjajahan Belanda, Inggris ataupun Jepang. Tidak. Itulah artinya kita sudah Merdeka, Merdeka secara fisik. Namun, bagaimana dengan moral kita? Seiring dengan perkembangan jaman serta teknologi yang serba mutahir ini, tak menutup kemungkinan untuk kita terhanyut didalamnya. Semua yang serba canggih, memang menguntungkan bagi kita. Namun terkadang membuat kita menjadi malas, bagaimana tidak malas kalau kita hanya menginginkan yang serba cepat serba instan. Dalam bahasa kerennya mungkin kita hanya ingin shortcut-nya saja. Kita hanya bisa menggunakan dan memanfaatkan yang sudah tersedia. Sama sekali tak terpikirkan harus mengembangkan, mengaturnya atau bahkan membuat sesuatu hal yang baru. Dan siapa yang membuat semua itu, bangsa barat. Yah, dalam konteks ini kita hanya memanfaatkan karya mereka. Padahal dari segi lain, mereka jelas meniru kita. Kita semua tahu bahwa Negara Barat mempunyai liberalisme yang menjujung tinggi kebebasan, sering kita menirunya dalam hal negative seperti free sex, life syle dan lain sebagainya. Namun apakah anda tahu bahwa di Barat, sebuah video purno hanya bisa di beli oleh orang dewasa dengan menunjukkan KTP. Sedangkan kita liat di Indonesia, seorang anak SD dengan mudah mendapatkannya asalkan mempunyai uang yang cukup. Atau bahkan terkadang ada warnet yang dengan sengaja menyediakannya. Sangat ironis. Saya juga miris kalau melihat pemuda di daerah tempat tinggal saya. Mereka punya uang, mereka bisa membeli sebuah sepeda motor. Tetapi, kenapa mereka hanya bisa memodifikasinya. Melakukan balaban liar yang membuat telinga hampir pecah dibuatnya, minum-minuman keras ala barat. Apa kalian hanya ingin menjadi sampah Indonesia. (Wow, kasarnya. Namun ini menurut pengakuan salah seorang tersangka). Kadang saya berpikir kalau mereka sebenarnya kreatif, dengan mengganti dan merubah model sebuah motor. Namun alangkah baiknya kalau mereka bisa menciptakan inovasi baru yang bisa membanggakan bangsanya, Indonesia. Bukan hanya sekedar mengedit yang sejatinya para penciptanya susah payah merancangnya.
Masih berhubungan dengan Negara Barat. Yah, Bangsa Barat memang konsutif. Suka menghambur-hamburkan uang demi kesenangan semata. Apa kita juga seperti itu? Jawabannya adalah “IYA”. Lantas dimana letak perbedaannya? Di Negara Barat, mereka menghambur-hamburkan uang namun mereka tidak lupa memenuhi kewajibannya. Kewajiban sebagai manusia, yakni menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupannya. Mereka menyeimbangkan sifat konsumtif mereka dengan sifat produktif. Produktif dengan cara mengembangkan teknologi mereka. Dan disini kita masih menggunakan shortcut-nya. Bagaimana dengan kita, bangsa Indonesia? Disini lah letak perbedaan kita. Kebanyakan dari kita memang mempunyai sifat konsumtif, namun itu tidak disertai dengan sifat produktif kita. Hal ini benar-benar tidak seimbang bukan. Padahal kalau dilihat dari segi SDA (Sumber Daya Alam), kita sangat kaya. Kita punya banyak tambang batu bara, namun sayang kita tidak bisa mengolahnya. Dan dengan senang hati kita harus mengirimnya ke luar negeri kemudian di olah, lalu kita harus membelinya kembali.
Jika demikian, apa yang bisa kita lakukan sebagai pamuda generasi bangsa? Manfaatkan semua kekayaan alam ini, jangan sampai kita sebagai mahasiswa merusak atau menyalagunakan kekayaan alam yang ada. Sebisa mungkin kita memberi contoh yang baik terhadap warga Indonesia, mulai dari hal yang terkecil(membuang sampah pada tempatnya). Ini hal kecil yang kita sering melupakannya. Satu hal yang mungkin sulit untuk dilakukan, ‘disiplin’ seperti orang-orang jepang. Kita harus yakin bahwa kita bisa lebih baik dari mereka. Amin. Menanamkan ‘kejujuran’ dan ‘amanah’ pada diri kita juga merupakan hal yang sangat penting. Kedua sifat Rasulullah SAW itu mampu membuat beliau dipercaya oleh para investor serta rekan kerjanya walaupun beliau hanya memiliki modal yang minimal pada saat itu. Dan yang terakhir adalah jangan pernah berhenti untuk belajar, awal sebuah bangsa yg maju adalah jika rakyatnya rajin membaca. Mari sama-sama belajar yukk!! Semangat….
Intinya, kita memang sedang tidak terjajah secara fisik namun kita terjajah secara moral. Pada pola pikir kita. Terjajah secara halus dan tanpa tersadari. Kalau dulu kita terjajah dengan cara yang menyakitkan, kini kita terjajah dalam keadaan yang enak dan nyaman. [/men][mumu]
Puji syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya terselesaikan juga.. ^^
Indonesia-ku, ijinkan aku menapakkan jejak langkah kakiku untuk sebuah pencapaian mimpi di atas tanahmu.
Bapak ibu, terima kasih atas goresan cinta yang kalian berikan padaku. Aku bangga terlahir di keluarga ini. :)
Mas Muhammad Mujahidillah (my 36’s oldest brother), terima kasih buat sumber inspirasinya. :)
Family of 36 : Mas Dhanika, Mbak Aghita, Mbak Hajar. Kalian yang telah membimbingku, terima kasih.
The last, pelangiku (datang dan pergi begitu saja)
17.08 WIB
Gorang-gareng, 17 Agustus 2010
Di bawah terik Matahari yang selalu menyinarimu, Indonesia!
Judgment day? Yes, maybe... Hari ini, 10 Agustus 2010. Wow, angka yang cantik bukan? Sayang sekali bukan secantik harapan dan angka itu. Namun sebaliknya, kenyataan begitu pahit dan menyakitkan. Yahh... namanya juga hidup, kadang kita diatas kadang kita juga harus dibawah. Seperti roda, roda kehidupanku yang seakan berputar membawaku ke suatu tempat. Tempat yang begitu gelap.
Kenyataan bahwa seseorang yang kita sayang akan pergi, begitu menyakitkan. Apalagi setelah kata itu keluar, "Maaf, aku gak bisa seperti dulu lagi. Sekarang Aku hanya ingin menjadi kakak dan teman buat kamu, tidak lebih", membuat kamar kecil dengan nyala lampu terang benderang ini gelap seketika. Tak sepatah kata pun bisa keluar dari mulutku. Dan dada ini tiba-tiba menjadi sesak. "Ada apa ini Ya Allah?" Tanyaku dalam hati. "Apakah ini mimpi?"sembari meraba wajahku yang sudah penuh dengan air mata. Ternyata ini adalah sebuah KENYATAAN. Well, semuanya sudah jelas. Tidak akan ada lagi kesalahpahaman, kecurigaan atau bahkan kecemburuan. Tidak akan ada lagi olok-olokan 'jelek', 'gendut', 'ndutz', 'bunder'' yang sejatinya aku sangat merindukan kata-kata itu, panggilan sayang itu.
Lagu ini yang mempertemukan kita satu tahun yang lalu, dan lagu ini juga yang akan memisahkan kita, Goodbye Days...
Dakara ima ai ni yuku sou kimetanda Pocket no kono kyoku wo kimi ni kikasetai Sotto volume wo agete tashikamete mita yo
Oh Good-bye days ima kawaru ki ga suru kinou made ni so long Kakkoyokunai yasashi sa ga soba ni aru kara La la la la la with you
Katahou no earphone wo kimi ni watasu Yukkuri to nagarekomu kono shunkan Umaku aisete imasu ka? tama ni mayou kedo
Oh Good-bye days ima kawari hajimeta mune no oku alright Kakkoyokunai yasashi sa ga soba ni aru kara La la la la la with you
Dekireba kanashii omoi nante shitakunai Demo yatte kuru desho? Sono toki egao de Yeah hello! my friend nantesa Ieta nara ii no ni...
Onaji uta wo kuchizusamu toki soba ni ite I wish Kakkoyokunai yasashi sa ni aete yokatta yo La la la la Good-bye days
Teruntuk temanku, karena Aku Menyayangimu... Lakukan yang terbaik dalam hidupmu... Aku tidak melarang adanya perubahan padamu... Namun pikirkanlah terlebih dahulu sebelum kamu bertindak... Jangan sampai penyesalan datang di akhir... [/men]
Pukul 04.10 GM 16, Surabaya, 10 Agustus 2010 Dalam "malam yang tenang"
Kapankah waktu yang paling diharapkan oleh orang sepertiku ini? Liburan panjang dan bisa pulang kampung tentunya. Waktu itu, tepatnya satu tahun yang lalu adalah liburan panjang bagi mahasiswa sepertiku. Namun, karena banyaknya agenda yang harus diselesaikan, maka niat mulia untuk pulang kampung pun terabaikan. Hal itu juga yang membuatku tetap bertahan di Kota Pahlawan ini.
Selama satu bulan aku masih terus bertahan. Tiap hari hanya di sibukkan dengan agenda rapat dan syuro’(sebutan rapat bagi Lembaga Dakwah). Hampir bosan aku menjalaninya rutinitas itu. Kadang aku juga merasa iri pada teman-teman lain, yang bisa bangun siang dan menikmati masakan ibunya setiap hari. Sungguh menyenangkan sekali ketika aku membayangkannya. Ehmmm…
Tapi seketika perasaan bosan itu hilang, seiring datangnya agenda lain, NONGKRONG. Aku menyebutnya nongkrong karena kegiatannya hanya berkumpul di parkiran kampus dan membahas hal-hal yang geje alias gak jelas. Kami hanya terdiri dari 4 sampai 5 orang. Hal ini yang kemudian mendekatkan kami, aku dan dia. Dari sinilah persahabatan kami di mulai… Bismillah Pada tingkat kedua masa perkuliaanku, kami sengaja mengambil kelas mata kuliah yang sama. Dia memang lebih bisa menguasai materi dari pada aku, jadi tak jarang dia membagikan ilmu yang dia dapet denganku. Karena dia tahu, seberapa kemampuanku. Kemampuankku berbicara di depan kelas, ber-presentasi, dan me-ngoding(kenapa harus ada kata-kata ini). Dia yang selama ini mengajariku dengan ketelatenannya. Suatu ketika seusai kuis, Dia mengirim SMS. “gmn tadi kuisnya, bisa?”, isi pesan tersebut. “Aku salah menghitung di awal, jadi ke bawahnya salah semua. ” tulisku dengan singkat.
Selang beberapa saat setelah pesankku tersampaikan, telepon selulerku bergetar. Rupanya dari dia. “Halo, Assalamu’alaykum”, jawabku dengan nada terputus-putus “Kamu napa menangis”, balasnya dari seberang
Dengan segala cara dia menghiburku dan memotivasiku kembali agar aku bisa bangkit. Dan akhirnya aku pun dapat menghentikan tangisanku itu.(ketahuan dech kalau aku itu amat sangat cengeng!) Dia selalu bisa membuat aku tersenyum di saat aku bersedih, membuat aku bangkit di saat aku terjatuh, dan membuat aku tenang di saat aku gelisah. Selalu menuntunku di setiap ada masalah. Hal ini yang membuat aku semakin tergantung dengannya. Aku tak mampu mengambil suatu keputusan sendiri, tanpa dia. Aku selalu dan selalu mengandalkannya. Hingga suatu hari dia sadar, kalau hal yang dia lakukan ini akan berdampak buruk bagiku. Aku tak mampu mengambil keputusan sendiri. Aku tak akan bisa hidup mandiri. Gimana gak, setiap ada masalah hanya nomor telepon selulernya yang selalu aku hubungi selayaknya nomor info 108. Aku semakin menjadi jadi setelah aku tertimpa masalah besar. Sedikit-sedikit aku menelpon, hanya sekadar tanya “di mana?”. Dan kalau dia gak angkat teleponnya, aku tiba-tiba nggondok dengan mengirimkan sms yang berisi “Lagi sibuk ya?maaf udah ganggu waktunya”, Ya begitulah kalau ke-sensitifan-ku lagi kumat. Padahal Aku hanya ingin selalu dihiburnya dengan kata-kata pembakar semangatnya.
Hingga suatu hari, tiba-tiba dia ngilang gitu aja. Bagaikan di telan Bumi. Aku sms gak dibalas, aku telepon gak di angkat. Waktu berpapasan di jalan, dia memalingkan mukanya. Dan disaat aku berniat menghampirinya, dia pergi begitu saja. Sudah lebih dari satu minggu dia memperlakukanku seperti itu. Seperti angin yang sedikitpun tak nampak di depan matanya. Jujur, aku down banget saat itu. Aku seperti kehilangan tongkatku untuk berjalan. Pembakar semangatku serasa telah tersiram air hingga tak terbekas. Aku bingung mesti ngapain. Aku tak tahu harus bagaimana.
Hal-hal negative tak jarang berkeliaran di otakku. “Apa dia sudah punya calon ya? Pacar gitu?”, si devil berbicara di otakku “Masak sich? Gak mungkin ah, sapa juga yang mau sama dia?”, devil satu lagi bergumam “Mungkin aku salah ya sama dia, tapi salah apa ya?”, Angel bertindak
Huft, tak pernah ada jawaban pasti dari dia. Aku sudah lakuin yang aku bisa, seperti menyunting hadist berikut : "Tidak halal bagi seorang muslim memboikot (tidak bertegur) dengan saudaranya di atas tiga hari, mereka bertemu namun saling berpaling muka, sebaik-baik mereka adalah yang memulai dengan salam (HR Muttafaq ''alaihi) dan mengirimkannya via sms.
Namun hal itu masih juga tidak membuahkan hasil. Aku tak tahu apa yang dia harapkan. Apa yang dia pikirkan. Aku hanya bisa menangis di setiap malam. Tanpa tahu apa yang akan terjadi esok. Hingga di suatu malam, aku tersadar kalau gak mungkin aku akan seperti ini selamanya. Gak mungkin aku akan tergantung dengan dia seumur hidupkku, dengan kemampuannya. Aku sadar dia juga manusia normal yang menginginkan kebebasan dan kebahagiaan. Mungkin memang hanya sampai disini saja kisah kami. Kisah yang indah dan hanya kami yang tahu. Kisah dimana seseorang saling melengkapi kekurangan dan kelemahan masing-masing. Kini hanya doa di setiap malamku yang bisa aku panjatkan padaNya, agar dia selalu berada dalam lindunganNya. Dan berkata dalam hati “Tenang aku masih bisa hidup, tanpamu…” Karena Allah SWT… [/men] Wallahu a'lam bishshawab, , Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
masih kisah geje, dan dalam masa "belajar menulis"... Harap di maklumi teman2... Dan tentunya, mohon do'anya... makasih... :)
Entah dapat wangsit menulis dari mana, aku tak tahu. Bismillah... Hanya terlintas dalam otakku, aku pengen nulis ah...
Ternyata baru 7 hari dia ninggalin aku, tapi kok rasanya kayak sudah se abad ya? (Halah lebayy). Banyak banget cerita numpuk yang belum sempat aku transfer ke dia, sampai akhirnya aku mutusin buat menulisnya. Berharap pas dia dah kembali, aku bisa ingat lewat tulisan-tulisan ini... Insya Allah.
Rasanya sekarang aku sudah banyak berubah, bukan lagi aku yang dulu. Aku sudah bisa "ontime" lho, masa percobaan 1 minggu. Huaaaa, seneng banget ya rasanya pas tahu kalau kita dateng tepat waktu. Tapi jengkel juga sich liat temen-temen yang masih suka ngaret datengnya. Padahal aku dulu juga kayak mereka. Hehehe... Kemarin aku sempet telat juga, lama banget malahan. Soalnya masih nunggu jemputan. (Hiyaaa, nebeng ae!)
Waktu pemilihan staff itu, asli aku kebingungan buat nentuin siapa-siapa saja yang bakal jadi partner kerjaku selama satu tahun ke depan. Kalau saja dia ada pada waktu itu, pasti aku bisa tanya-tanya sama dia yang notabasenya lebih tahu banyak tentang sifat-sifat para kandidat calon tersebut. Dan pasti aku bertukar pikiran sama dia, " Eh, si A ini gimana sich orangnya? Trus kalau si B, dia itu bisa datang ontime gak y?" Pertanyaanku yang panjang dan tak jarang membuatnya geram. Tapi, dengan sabar dia pasti menjawab " Kal si A itu, pertama dia orangnya bla, bla , bla... Kedua, dia itu bla, bla, bla.. Ketiga, dia gag suka bla, bla... dst" Jawabnya dengan sangat terperinci dan jelas. Nah, aku sempet agak bingung waktu itu. Tanpa dia rasanya aku nggak bisa mengambil keputusan yang tepat. Aku takut banget kalau pilihan-pilihanku itu bukan yang terbaik, jelas saja bingung soalnya dari beberapa calon yang mengikuti tahap wawancara semuanya istimewa. Setelah mengalami diskusi panjang dengan beberapa teman, akhirnya masalah itupun dapat teratasi. Dan aku hanya bisa mengucap Alhamdulillah... Aku bisa untuk pertama kalinya tanpa dia.
Masalah kedua muncul, setelah aku di amanahin buat pesen makanan untuk sebuah acara syukuran di kampus. Aku kewalahan cari tempat makanan yang enak dan tentunya murah. Maklumlah, mahasiswa! Dana yang kami punya tak begitu banyak sedangkan sebagai calon ibu rumah tangga aku tahulah kalau sekarang harga bahan pokok mahalnya selangit. Dibantu salah satu temen(bendahara), akhirnya berhasil menemukan tempat yang cocok. Tapi masalahnya, aku baru pertama pesen di tempat itu. Hatiku berasa dag-dig-dug... Takut kalau rasanya kurang pas dan makanan yang di pesen gak cukup di hari H nya nanti. Soalnya aku pesen prasmanan, dan gak ada kepastian jumlah undangan yang bakal datang. Hari H pun datang, lhah si temen yang nemenin aku tadi (bendahara) ternyata gak bisa dateng karena ada acara yang gak bisa ditinggalkan. Aku semakin takut, seharusnya kami berdua yang menjadi penanggung jawab." Wah, matilah sudah", kataku dalam hati. Tapi untungnya nasib baik sedang berada di pihakku, ada banyak teman yang siap membantu. (thanks to AM, EC, NW, HA). Dari sini, aku juga mengharapkan kedatangannya. Biasanya dia pasti langsung telepon, "pesen di mana maemnya tadi?", tanya dia penasaran. "Napa? Gak enak ya?", balas tanyaku. Dan dia pasti berkomentar dengan panjang dan lebar samadengan luas. Maklum, dia termasuk pengamat makanan. Hampir semua makanan yang direkomendasikan dia, pasti juga cocok di lidahku dan teman-teman. Aduh gak kebayang dech, gimana ntar yang jadi istrinya.Sabar aja ya dan kayaknya harus kursus masak dulu. ^^
Selama tujuh hari ini, aku sering menyibukkan diri. Satu hal yang jadi susah buat ditinggalin adalah baca buku dan chatting tentunya. Pas aku lagi chatting, tanpa sengaja aku menambahkan ID di salah satu account chatku. Rupanya orang itu bukan orang biasa, beliau adalah calon pengajar di salah satu universitas negeri di tanah air. Sekarang beliau sedang mengemban tugas S2 di luar negeri. Waduh, aku sudah terlanjur di approve oleh beliau, dan memulai percakapan. Aku gak tahu harus bilang apa, rasa grogi, takut dan was-was mulai menguasai diriku. Aku menghela nafas panjang-panjang, sembari memikirkan apa yang akan aku ketikkan pada keyboard. Dalam keadaan seperti ini, aku kembali mengalihkan pikiranku pada dia. Dia tahu betul tentang aku, dia tahu seberapa besar rasa minder, ketidak percaya dirian yang aku punya. Aku juga susah berkomunikasi dengan orang-orang hebat (akibat over minder). Benar-benar susah menerima kepergiannya yang menurutku begitu mendadak ini. Kadang aku berpikir, mungkin dia sudah capek mentransfer ilmu kepadaku karena aku terlalu keras kepala, terlalu malas mencoba hal-hal baru, terkadang bahkan menyerah sebelum mencoba. Back to topic, bagaimana kelanjutan chattingnya? Rahasia.. hehehe... Sampai sekarang aku masih berpikir, mungkin kalau waktu itu ada dia aku bisa bertanya tanya lebih sambil belajar berkomunikasi dengan orang yang baru aku kenal. Namun, aku juga harus menerima ini semua dan mengambil hikmah dari kepergiannya. Dengan begini aku berharap bisa menjadi lebih mandiri dan tegar, seperti yang dia harapkan dulu.[/men]
Alhamdulillah, aku bisa menyelesaikan tulisan pertamaku. Aku berharap bisa nulis yang lebih, lebih, dan lebih baik lagi. Insya Allah... Amin... mohon doanya ya teman-teman... ^^ Surabaya, GM 16
"meNciNtaiMu adLh seBuaH piLiHan yG udH Q bwaT,,baGaiManaPuN Q hRus siaP uTk beRkorbaN, waL Kau taK MeminTanY. BiaRKaN nTi Q mEnJaDi dEbu yG tRbaWa anGin daN kaN sLaLu da di seKitaRmu!InsYa ALLOH.."
naPa c semua haRus peRgi beGitu saJa, seCepat itu...!!yg kePergiannya tanpa aQ saDari uda MenghiLangkaN sebagian jiwa daRi diriku,,,akaNkaH aQ sePerti ini terus???y Rabb..beRikan peTunjuKmu padaku..
maKsudnya,,pa mank aQ hRus d TaKdirkan saYang ma OrnG yG dY seDikiTpuN taG pRnh maU menGenaLiku..!!aQ beRada d sAmpinGnya, tP aQ taG biSa menYentuHnya..aQ taG biSa meNgGandeng taNganNya..aQ taG biSa meNyentuhNya.. yuPz,,aQ hNya biSa meLihaTnya daRi deKat, namUn dY taG pRnh meLihaTku, seaKan-seaKan aQ hNya segeMggaM deBu yaNg beteRbangaN d seKitaRnya..!!
Praktikum PTI???kadang bkin lelah sich, uda harus bkind TP(Tugas Pendahuluan), post test, LP(Laporan Praktikum) not Laskar Pelangi...!!hhehehe... tp, sekarangjd ngerasa kehilangan bgt, jangan muna dech kalian...!!!kengen di marah marahin mas Hatta khan???"kapan kalian berubah??kapan??jawab??", pada inget gag yang shift 1 pas modul FP...!!mav y teman-teman...i'm so sorry...............!!!
aq jg ngerasa dapat ilmu banyak benget di praktikum PTI ini. semula khan aq gag ngrerti apa-apa blas. Sekarang jadi ngerti dech, walau gag banyak tapi setidaknya dah dapat ilmu yang cukup lumayan. N aq rasa praktikum PTI ini gag terlalu berat ato menjadi beban koq...beda banget ma jurusan lain, yang praktikumnya susahnya setengah mati(katanya sich)...
saat yang sangat amat menegangkan y pas kemarin jd tutor.uh,,,bener-bener nervous abiz..!!pa lagi liat para asprak yang serius-serius gitu, jd tambah gag bisa nafas dech pokoknya!trus lagi anak-anak yang sok-sok tanya(heran aq napa sich merka gag ngerti-ngerti) padalah "kita" dah susah payah mencoba yang sebaik mungkin buat jadi tutor..!!hhehehe Ne foto pas aq jd tutor,,